PICB Balumbung Situbondo Temukan Keletakan Prasasti Agel

PICB Balumbung Situbondo Temukan Keletakan Prasasti Agel
Sejarah
Tim PICB Balumbung bersama kepala dusun dan warga pemilik lahan di tempat asal Prasasti Agel.

SITUBONDO- Sebuah benda yang diduga cagar budaya berupa batu bertulis dengan angka tahun 1395 Saka/1473 Masehi  diverifikasi dan divalidasi posisi asalnya oleh PICB (Pusat Informasi Cagar Budaya) Balumbung. 

Senin (10/2/2020) siang tim berhasil menemukan titik keletakan batu yang diidentifikasi sebagai Prasasti Agel itu di Dusun Krajan, Desa Agel, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Koordinator PICB Balumbung, Irwan Rakhday mengatakan jika benda yang ditemukan secara eksitu pada tahun 2018 dari tangan kolektor ditebus pada Februari 2019. 

"Berdasarkan data Belanda yang ditulis pada tahun 1891, terdapat dua buah batu bertulis di Desa Agel yang belakangan raib. Namun dari perburuan kami, hanya berhasil mendapatkan 1 buah batu. Informasi Kades Agel, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Chairil Anwar, menyebutkan bahwa dahulu ketika dirinya masih berusia sekitar 8 tahunan, sering bermain di area batu bertulis yang berbentuk persegi panjang," ujar Irwan.

Kepada PICB  Balumbung , kades mengaku hanya mengetahui 1 buah batu dari 2 buah batu yang diinformasikan sebelumnya dari catatan Belanda. Satu batu disebutkan telah raib dicuri pada tahun 1993. Menurut Anwar batu bertulis yang dia lihat langsung adalah yang berbentuk persegi panjang.

"Dulunya, kades memang hanya melihat keberadaan 1 buah batu, yaitu yang persegi panjang. Sedangkan batu yang satunya, yang berbentuk kurawal, dia mengaku hanya tahu informasinya, tapi belum pernah melihat batunya secara langsung," lanjut Irwan.

Karena Kades Chairil Anwar tidak mengetahui batu yang berbentuk kurawal itu, akhirnya dia mempersilahkan tim untuk mengonfirmasi ke warga Dusun Krajan bernama Musahan, pimpinan Ludruk Rantai Alam.

Selanjutnya, tim bersama kepala dusun menemui Musahan, kakek yang kelahiran tahun 1951. Musahan  membenarkan jika pernah ada batu yang dimaksud namun posisinya berada di pekarangan Titin (47) .

Akhirnya tim bergerak menemui Titin. Begitu ditunjukkan foto batu bertulis berbentuk kurawal itu, Titin membenarkan bahwa batu tersebut memang berasal dari lokasi di pekarangannya. Titin menyebutkan sekitar 27 tahun yang lalu (tahun 1993, red)  batu bertulis berbentuk kurawal itu diketahui digali lalu dijual.

"Keterangan dari Mbak Titin ini berkesesuaian atau bersamaan waktunya dengan raibnya batu bertulis yang berbentuk persegi panjang, yakni tahun 1993," terang Irwan.

"Sekarang, ketika telah diketahui asal batu bertulis tersebut pada keletakannya, kita perlu mempertimbangkan untuk mengembalikan prasasti itu pada posisi aslinya," ucap Irwan.

Namun, kata Irwan, pertimbangan itu harus matang dengan dibarengi komitmen yang serius semua elemen.

Sementara itu, Arman Semut, warga setempat yang tergabung dalam tim bahkan menyampaikan bahwa pemilik lahan asal prasasti berada,  merelakan sebagian lahannya untuk dibuka akses kendaraan roda dua, jika ditetapkan sebagai sebuah situs.

"Itu pun jika keputusannya memang direvitalisasi, jika tidak, keletakan prasasti itu setidaknya tetap penting untuk dicatat" kata Arman didampingi Kepala Dusun, Mistar.(*)


Kontributor : Sarwo Edy
Editor : Irwan Rakhday
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar